Coklat yang Jatuh

•December 20, 2011 • Leave a Comment

Saya sangat menyukai coklat.

Saya juga tak kecewa jika satu waktu coklat itu jatuh dan hilang dari kantung kemeja

Namun satu hal yang sulit saya terima,

kala melihat coklat itu perlahan terjatuh dan terpelanting di tanah

Sari Dewi

•October 29, 2010 • Leave a Comment

Sudah sejak lama sebenarnya saya ingin menegurnya. Sekedar menyapa lantas menyebutkan nama. Namun hendak apa, sepertinya situasi tak pernah di sisi kami. Entah mungkin saya juga tak punya nyali. Tapi bukan itu.

Sepertinya saya selalu ragu saat bertemu dia. Saya seperti pernah cukup lama mengenalinya. Tapi kenapa dalam situasi itu, sepertinya juga saya selalu merasa ragu akan keyakinan saya sebelumnya. Itu membuat saya selalu sangsi untuk membuka lagi memori lama.

Tapi saya tidak akan pernah lupa. Telah banyak rupa dan tak terhitung gadis dengan mata sipit yang pernah saya lihat sebelumnya. Tapi saya tidak pernah lupa terhadapnya. Saya hafal betul dengan sipit matanya. Bentuk lentik alisnya. Tembem pipi dan lurus rambut kuda poninya. Juga dengan tebal bedaknya.

Hingga beberapa waktu yang lalu. Kebetulan saya mengunjunginya. Saat jarak antara kami masih beberapa langkah jauhnya, saya masih ragu saja. Namun ketika saya tepat di depannya. Tepat ketika saya membuka tangki bensin motor. Saat saya mengutarakan “10.000 Mba”. Saya tak ragu lagi. Saya langsung menyapanya.

Tepat di depannya, saya melafalkan namanya. Tepat ketika saya membungkuk, saat kepala saya sejajar dengan dada dan melihat name tag nya. Sa-ri… De-wi. Saya mengeja namanya per suku kata dengan lambat.  Menyebutkan lengkap dengan singkatan nama belakangnya. Plus menyebutkan kelas dan sekolahnya.

Sepertinya suasana menjadi senyap baginya. Seketika rona wajahnya mengguratkan keterkejutan. Ia juga nampak kaget ketika ada yang menyebutkan namanya dengan lengkap berikut tempat sekolah SD nya. Ya, Sari Dewi. Sebut saja namanya. Ia kawan lamaku. Ia kawan ketika kami masih duduk di bangku SD. Saya tak sempat kenal dekat dengannya karena ketika menginjak kelas 3 atau 4 SD ia pindah sekolah. Namun walau ia begitu pendiam dan hanya mengenalnya selama tiga tahun, lembar memori saya masih cukup tebal untuk mengingatnya.

Ya, serupa seperti 15 tahun lalu. Rambutnya masih hitam lurus. Mata sipitnya. Dan terutama tembem pipi dan olesan bedak di wajahnya yang tak pernah saya lupa. Walau tentu postur dan perawakannya berubah. Tapi bagaimanapun saya masih tetap mengenalinya.

Kini ia bekerja di SPBU dekat rumah saya. Saat saya bertemu dan menyapa, tak ada balasan darinya. Mungkin ia masih sedikit terkejut. Lagi pula saya tak punya banyak waktu untuk berbincang dengannya. Maklum, antrian di pom saat itu cukup panjang di belakang saya.

Aaah, lain kali saya pasti akan menyapa dan menepuk pundaknya. Saya akan berbincang lebih panjang dengannya. Saya juga akan bertanya tentang kita, dan bagaimana kawan kami lainnya setelah 15 tahun lamanya.

Saya rindu, rindu kawan kami lainnya.

Saya rindu kamu

Sari Dewi.

Blue Screen

•October 14, 2010 • Leave a Comment

Ketika saya di depan layar komputer semuanya terkadang menjadi buram. Deretan abjad perlahan menjadi kabur, perlahan memudar, hingga menjadi deretan  abjad yang tak dapat dikenali lagi bentuk dan maknanya. Begitu juga dengan alunan musiknya. Kini ia tak lagi mengguratkan dinamika emosinya dan hanya menjadi bunyi-bunyian seperti hanya bunyi tonggeret di musim kemarau.

Setidaknya itulah gejala yang dapat timbul saat kita secara terpaksa harus berhadapan dengan komputer. Entah terpaksa mengerjakan tugas karena tenggat batas waktu, tumpukan pekerjaan, atau hendak mengerjakan tugas namun terserang kantuk luar biasa karena malamnya tidak tidur.

Jika demikian saya biasanya segera menutup Jendela-Jendela yang terbuka. Mundur beberapa langkah ke belakang menuju kasur, meluruskan badan, menarik napas dalam-dalam, menggeser posisi bantal, menarik selimut tinggi-tinggi, dan segera terjun bebas, masuk ke dalam jendela-jendela yang jauh lebih mengasyikkan.

Tidak Kenapa-Kenapa

•October 11, 2010 • Leave a Comment

Kemarin saya dan beberapa teman sepermainan kecil di rumah, bertemu kembali. Kebetulan saat itu hari Jumat. Sebelum jumatan dimulai kami berbincang, ngobrol kesana-kemari. Namun tak seperti biasanya, ketika kami banyak berbincang tentang poin blank/ obrolan remeh sejenisnya, saat itu malah masalah perkerjaan yang kami obrolkan. Masalah yang amat jarang kami ungkit sebelumnya. Hal ini nampaknya dipicu oleh pertanyaan salah satu kawan yang menanyakan perihal lamaran kerja salah satu kawan kami. Kumaha gawe? katarima teu maneh? Begitu teman saya bertanya pada kawan saya satunya.

Sejak kecil kami tumbuh bersama. Dari taman kanak-kanak hingga hampir tamat universitas kami tak pernah putus komunikasi dan terus bermain dan berkumpul bersama. Banyak permainan juga yang telah kami lakukan bersama dari mulai boy-boyan hingga sekarang jamannya poin blank. Intinya tak terhitung momen-momen saat kita bersama sejak hampir dua dekade yang lalu.

Nya, tinggal teken kontrak. Imbuh kawan saya. Ia merupakan teman (tetangga dan adik kelas SD) saya yang baru sekitar satu bulan wisudaan .Ia baru saja lulus dari suatu sekolah politeknik di Bandung. Baru saja beberapa minggu ia lulus, lamaran kerjanya diterima di beberapa perusahaan bonafit. Tinggal terserah ia saja, akan kerja dimana. Namun ya, gajinya tetap sama-sama saja. Nya ngaranna ge fresh graduate, wajar gaji sakitu mah, nu penting pengalaman heula. Begitu bela kawan saya.

Namun, saat kawan saya yang lain riuh mengucapkan selamat kepadanya dan bertanya-tanya seputar kerja padanya, ada dua orang yang terdiam. Satu saya, satu lagi kawan saya. Ia juga berstatus mahasiswa dari fakultas canggih di universitas yang sama dengan saya.

Tanpa diperintah, kami berdua, dalam waktu yang bersamaan, saling memalingkan wajah, bertemu pandang, dan langsung mengumbar senyum satu sama lain. Entah senyum jenis apa itu. Yang jelas, sepertinya dia mengerti apa maksud senyum saya begitu juga sebaliknya.

Musik Tidur

•October 2, 2010 • Leave a Comment

Sejak saya diterpa sakit beberapa hari yang lalu, otomatis kegiatan saya terganggu (walau sebenarnya saya tidak memiliki aktivitas rutin yang penting). Namun yang paling utama ialah kegiatan saya bertahan  hidup seperti makan, tidur atau buang air besar menjadi berantakan. Makan tak nikmat, 3 malam mata tak terlelap, dan buang air besar yang terasa tidak mengenakkan seperti biasanya.

Sakit membuat saya mati gaya bagai kutu kena detox. Namun tak seperti biasanya, saya mencoba memutar playlist di komputer dan mendengarkan siaran radio favorit. Hal yang sebelumnya jarang saya lakukan, mengingat, disaat sakit biasanya komputerlah hal yang paling saya jauhi. Ya, hal ini akan saya coba lakukan malam ini. Sudah hampir tepat 3 malam mata tak bisa terlelap (aneh.. kenapa dokternya tak memberikan obat tidur). Baru kali ini saya mengalaminya saat sakit. Semoga malam ini saya akan bisa terlelap karena putaran shuffle dari playlist musik di komputer. Terlelap karena nikmatnya alunan nada tentunya dan bukan terlelap karena lelahnya menunggu mata tak lekas memejam.Weleh..weleh….

Cespleng…

•October 2, 2010 • Leave a Comment

Saya tahu kenapa saya amat bersyukur atas hidup saya yang telah jalani dan tidak pernah ngoyo memikirkannya. Pertama karena saya sehat, kedua masih bisa tidur lelap, kemudian makan tak berlebihan namun nikmat dan punya kawan yang hebat. Maka sejak lebaran kemarin, sebagai ucapan rasa syukur idul fitri kepada kawan, saya hanya mengucapkan 4 hal di atas lewat smsnya. Pertama  waspada angin malam,kedua  makan secukupnya, kemudian tidurlah dengan lelap, dan berbincanglah dengan orang-orang terdekat.

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.