Riuh Rendah 2010

•December 31, 2009 • Leave a Comment

Hingar suara sudah mulai terdengar. Alunan nada tak bertempo dan tak jelas ritmenya mulai tersaring oleh gendang telinga yang sudah amat peka terhadap suara-suara modernitas. Suara peradaban yang yang membuat manusia begitu takut akan kesunyian. Zaman saat manusia mencoba untuk mengupas keterasingannya. Hal yang kemudian hanya membuat manusia terasing dalam kebisingan,keriuhan, dan aktivitas kesehariannya.

Dari mulai fajar menyapa melalui sinar lembutnya, hingga bulan mulai mengambil alih tugasnya sebagai penerangan malam yang tak lagi gelap karena peradaban, jejak-jejak perayaan sudah mulai terdeteksi hingga beberapa hari sebelumnya. Dalam dunia yang seolah serba pasti, segala hal seolah mudah untuk dapat ditebak, karena dasarnya semua hal ialah merupakan perulangan yang cenderung sama. Perulangan yang membosankan. Perulangan yang hanya membuat aktornya terjerembab pada hal-hal yang semu. Kegiatan-kegiatan yang membuat manusia seolah masih ingin terus hidup. Rutinitas yang menjadi alasan utama agar manusia ingin terus mencapai cita mulianya masing-masing. Ide-ide yang membuat manusia merasa nyaman dalam perasaan ketidaknyamanan-nya.

Dalam berbagai rutinitasnya, manusia banyak melakukan hal yang sama tanpa ia tahu mengapa ia melakukannya. Seolah terdapat kekuatan abstrak yang menggerakan mereka. Kekuatan yang membuat mereka tak dapat bergerak untuk mengelak. Satu jebakan tikus ampuh yang membuat manusia terpaku dan seolah tak memiliki daya. Suatu kekuatan dari peradaban yang membuat manusia bergerak dan terus bergerak. Pergerakan yang sebenarnya menghipnotis mereka dalam pengulangan pergerakan yang menjemukan.

Peradaban yang banyak dikatakan bermula dari ditemukannya tulisan, telah melenceng terlalu jauh dari nilai-nilai asalinya. Peradaban yang bertujuan bagi efisiensi energi dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup manusia tidak lagi berada pada lintasannya. Nilai-nilai tersebut telah hilang atau setidaknya telah pudar dimakan waktu yang tak kenal kompromi. Saat ini peradaban melulu diasosiasikan dengan listrik, penerangan, internet, dan Blackberry. Peradaban ialah saat segalanya serba mudah, murah, dan singkat.

Peradaban dengan segala perayaannya telah bertransformasi menjadi segala kelimpahruahan yang tak berguna. Peradaban hanya menjadi selebrasi akan materi semata. Peradaban yang katanya diisi oleh manusia-manusia yang telah beradab yang telah pintar dan canggih untuk memanipulasi segala hal, termasuk keber-adaban-nya mereka sendiri. Manusia yang bisa dengan mudah untuk memutarbalikkan segala hal. Spesies yang terus dan terus mengejar berbagai kepentingan kosongnya dengan mengambil terlalu jauh jarak akan keber-ada-annya.

Tak ayal, semua hal terlihat kacau. Berbagai perayaan hanyalah menjadi tempat sampah untuk membuang segala keluh, peluh, dan kesah akibat keterpaksaan manusia bergerak dalam roda peradaban mereka. Perayaan hanyalah waktu kosong. Waktu tak berguna yang dapat mereka isi dengan kegiatan sesukanya. Aktivitas berupa sampah-sampah untuk memenuhi tong sampahnya.

Nampaknya juga, beberapa hari ini tong sampah tersebut hampir terisi penuh. Manusia sudah mulai memilah sampah-sampah untuk mengisi tong sampah besar tahunannya. Semua membicarakan tentang sampahnya masing-masing. Semua terfokus untuk merencanakan bagaimana caranya mengisi waktu sampah ini dengan berbagai kegiatan sampahnya.

Hingga kemudian tiba saatnya, mereka telah siap. Genderang tabuh pelampiasan kepenatan mereka tumpah disini. Berbagai tempat, sudut kota, perempatan jalan, hotel mewah,dan club malam menjadi wadah bagi pelampiasan nafsu libidinal manusia. Semua menggunakan ruang-ruang tersebut untuk merayakan pergantian tahun.

Semua bahagia akan euforia pergantian tahun. Euforia yang terjadi di atas berbagai nestapa. Euforia yang terjadi di saat beberapa kaum di luar mereka hanya bisa merasakan pedih derita. Waktu tak berguna, yang di saat bersamaan lainnya merupakan waktu krusial. Waktu untuk memilih antara hidup dan mati. Waktu yang tidak memberikan waktu bagi mereka untuk memikirkan berbagai perayaan dan selebrasi sia-sia semata.

Waktu yang untuk berbagai tempat dan orang tertentu dihiasi dengan berbagai kerlap-kerlip kembang api dan resolusi-resolusi basa-basi. Waktu saat orang dapat melihat berbagai warna kembang api menghiasi langit cerah penuh awan mereka. Kerlip kembang api yang tidak sampai terlihat pada beberapa orang diluar mereka. Kaum yang hanya bisa melihat debu, ledakan api, dan kepulan asap pekat yang menyayat langit sempit mereka. Orang-orang yang tak bisa mendengar luapan dan teriakan kebahagian pergantian tahun. Kelompok manusia yang hanya bisa mendengar tangis anak kecil yang kehilangan keluarga dan jeritan hati ibunya.

Saat semua berlomba untuk mencapai tempat tertinggi hanya untuk bisa melihat kilatan kembang api dan memotretnya untuk memenuhi memori telepon selular, di tempat yang lainnya semua mencoba berlari dari ancaman dan mencoba melupakan dan menghapus memori ingatan akan apa yang terjadi hari ini. Jika hidup bagaikan roda, buat mereka hidup bagaikan kusta. Penderitaan yang terus menghantui sepanjang masa hidup mereka.

Jika seperti ini, apakah pergantian tahun merupakan langkah menuju pada hidup yang lebih beradab. Satu kelompok bergembira ria dan lainnya berduka nestapa. Apakah juga ini model baru dari peradaban yang lebih awal. Peradaban yang ditandai dengan hak kepemilikan, stratifikasi, dan juga eksploitasi. Peradabaan saat satu kelompok berkeluh kesah dan sebagian kecil lainnya menikmati keluh kesah tersebut untuk kesenangan dan kepentingan mereka.

Hal yang sedikit berbeda saat ini. Pada satu tempat yang terdiri dari berbagai golongan, posisi, dan status, mereka semua merasakan apa yang terjadi. Merasakan segala penderitaan yang tak kunjung usai. Berbeda dengan masa awal pertanian, saat di suatu lahan diisi dengan orang yang tertawa dan di dekatnya ada orang yang terus dipaksa bekerja agar tuannya dapat terus tertawa haa..haa…

Segala acara seremonial tak berguna saat masa-masa pergantian tahun hanyalah selebrasi miskin makna dan tak tak berdayaguna. Semua juga hanya berkilah saat ditanya mengenai aktivitas di pergantian tahun baru mereka. Bersilat lidah bahwa apa yang dilakukan berguna dan dan bernilai bagi dirinya. Semuanya berusaha menutupi kecemasan mereka akan rutinitas yang akan dihadapinya lagi esok. Semuanya berusaha menutupi sunyinya dunia dengan berbagai kebisingan belaka.

Masa pergantian tahun hanya dijadikan tempat bagi harapan-harapan manusia tanpa harapan. Berharap dan terus berharap karena mereka tidak tahu akan wujud dari segala harapannya. Harapan yang muncul dari berbagai ketidakpastian yang ada di hari esok. Semua tahu bahwa harapannya tidak akan pernah terkabul, dan dari itulah mereka hanya bisa berharap. Semua yang ada di depan tidak akan pernah pasti dan berlabuh pada suatu landasan yang jelas.

Bahwa selebrasi pergantian malam masehi merupakan sampah daur ulang untuk memenuhi tempat sampah yang disediakan pada malam tersebut. Setelah daur ulang tersebut selesai, maka sampah tersebut tetap akan menjadi sampah lagi di tahun baru berikutnya. Semuanya begitu dan sepertinya juga akan terus bertahan seperti itu. Semua hal ialah perputaran yang tak berputar. Semuanya hanya berkumpul pada suatu tempat dan waktu, untuk kemudian berkumpul dan berulang lagi. Saat ketika manusia tak diberi waktu untuk berpikir akan berbagai perulangan pasif dan semunya. Saat manusia telah terlalu jauh berada pada trek eksistensinya untuk kemudian meluncur dan tidak bisa lagi mengendalikan dirinya saat menuju pada kepunahan mereka.
***

selamat natal kawan!

•December 24, 2009 • Leave a Comment

Jika Natal jatuh pada setiap akhir tahun dan bertepatan dengan libur semester sekolah, bagaimana pula tindakan manusia dalam merseponnya. Dalam masyarakat industri, sekitar separuh masa hidup manusia dihabiskan untuk bekerja. Tak ada hari tanpa bekerja demi secuil upah yang seringkali melenceng dari esensi kerja yaitu aktivitas dalam rangka bertahan hidup. Kerja tidak lagi semata hanya untuk kebutuhan survival bagi manusia industri, kerja dipandang dapat memenuhi lebih dari kebutuhan subsisten.

Wajar jika manusia rela untuk menghabiskan separuh masa hidupnya untuk memikirkan urusan kerja yang sering diasosiasikan dengan kantor. Wajar juga ketika mereka menganggap pekerjaan yang banyak menyita waktu dan energi merupakan suatu yang wajar demi berbagai kepentingan yang ingin dicapai.

Seolah terjadi konsensus di antara mereka bahwa jika ingin sesuatu maka kita harus kerja. Perlu ditekankan bahwa konsenus yang disetujui bukan terdesak akan kebutuhan tetapi semata keinginan. Konsep kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) telah terlebih dahulu dimanipulasi oleh pihak tertentu sehingga kedua konsep tersebut menjadi kabur dan seolah menjadi satu hal yang sama.

Dalam perkembangannya, generasi mekanistis manusia telah diajari untuk mengerti akan berbagai simbol rumit yang terkait satu sama lain yang tidak dapat dimengerti oleh manusia dari generasi sebelumnya. Jaringan simbol tersebut menjadi sebagai rambu bagi manusia sekarang untuk bertindak.

Adanya simbol-simbol yang diciptakan oleh aktor selalu memilki makna yang berhubungan dengan citra. Dalam hubungannya dengan aktivitas subsisten, citra selalu dilekatkan padanya. Hal inilah yang membuat manusia tak mau berhenti bekerja hanya demi untuk mengejar citra. Ironisnya, pencitraan ini ialah bukan bayangan yang seutuhnya. Dalam pencitraannya, terdapat pembiasan yang tajam. Jika manusia semata bekerja hanya untuk bertahan hidup, sekarang manusia bekerja lebih hanya pada citra yang melekat pada aktivitas tersebut. Jadilah manusia yang menjadi buruh kerja demi mengejar citra. Terjadi pergeseran tujuan, yaitu aktivitas agar dapat mengkonsumsi citra dan simbol.

Lalu apa juga yang membuat manusia rela terus mengeluarkan eneginya untuk konsumsi akan citra hingga bekerja sampai 18 jam per hari bahkan hingga mau menjilat para bosnya. Status. Mereka mengejar status yang dapat membuat mereka terpandang, menguasai berbagai akses akan sumber daya, dan tentu saja citra.

Lalu mengapa juga status diasosiasikan dengan berbagai pencitraan. Hal ini bisa dikata hanya sebagai rekayasa belaka. Manipulasi akan citra dilihat sebagai cara yang termudah untuk melancarkan berbagai kepentingan. Citra merupakan hal yang pertama dinilai dan tentu saja ini sangat superfisial. Karena sifat citra yang superfisial jugalah hal ini merupakan hal yang paling mudah untuk dimanipulasi. Sebagai identitas yang juga merupakan kemasan seseorang, citra banyak dijadikan sebagai rujukan dan penilaian pertama akan seseorang. Kemudian, setelah kolektif setuju akan berbagai citra, maka yang terjadi ialah reproduksi akan hal tersebut dan lambat laun kemudian terlembagakan. Terus ditransmisikan dari generasi ke generasi. Tanpa sadarnya hal tersebut juga terus disosialisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang pada akhirnya seolah bersifat take for granted.

Setelah bekerja dan mencoba untuk tak kenal akan lelah dan juga mengejar berbagai simbol dan citra yang tersedia, maka kemudian mereka setuju untuk menciptakan waktu dan ruang saat mereka dapat membanggakan hasil kerja keras mereka tersebut. Karena sejak awal yang dikejar bukan hanya kebutuhan subsisten belaka, melainkan simbol, citra ataupun status maka harus ada arena sosial yang mereka ciptakan agar status,simbol yang telah mereka dapatkan secara susah payah dapat ditunjukkan pada orang lain. Orang lain pun melakukan hal yang sama. Jadi dibaliknya derasnya aliran dan perputaran uang, di masyarakat terdapat juga aliran perputaran dan juga pertukaran status, simbol, dan citra yang begitu intens. Berhubung hal seputar simbol, citra, dan status ini telah terlembagakan, maka dengan status yang telah didapatkan seseorang, secara tidak langsung hal tersebut menjadi pedoman bagi orang lain untuk bertindak dan memperlakukan orang yang telah mencapai level status tertentu. Dengan status A akan mendapatkan citra A pula untuk mewadahinya maka diciptakan pula simbol-simbol yang berasosiasi dengan status A tersebut.

Dengan diciptakan dan manipulasi akan status, citra, dan simbol A maka kemudian terciptalah efek domino dari hal tersebut, yang kemudian terciptalah status, citra dan simbol B,C,D dan seterusnya. Orang pada posisi B tahu bagaimana bertingkah laku terhadap orang di posisi A, begitu pula sebaliknya. Sayangnya berbagai pola hubungan dan penghargaan antara status A dan yang lainnya cenderung bersifat asimetris. Sayang untuk kedua kalinya juga, hubunga asimetris ini sering tidak disadari berhubung pola-pola ini telah terlembagakan atau bisa dikatakan dilembagakan oleh golongan tertentu untuk mencapai berbagai tujuan dan ambisinya.

Masyarakat industri selalu bekerja dan lupa bahwa setiap hari matahari dan bulan silih berganti mengisi siang-malam harinya. Matahari hanya dijadikan petunjuk bahwa sudah saatnya mulai bekerja dan terangnya bulan menjadi penunjuk arah bagi mereka saat kembali dari bekerja. Setiap hari begitu dan melulu.

Terkecuali itu, sabtu-minggu dijadikan waktu bagi mereka untuk beristirahat tetapi alih-alih beristirahat ataupun saatnya tuhan rehat sejenak dalam menciptakan bumi, waktu ini hanya dijadikan waktu bagi pemenuhan hasrat hedonistis. Memang pada waktu ini mereka tidak bekerja seperti biasanya, tetapi apa bedanya jika saat seperti ini hanya dijadikan ajang untuk konsumsi yang sifatnya hedonistik. Apakah ini yang disebut rasionalitas orang modern? i=c+I. Pendapatan samadengan konsumsi ditambah investasi??

Waktu luang mereka tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali, perulangan yang bodoh,kosong dan menjemukan. Dengan hal ini jangan banyak berharap manusia akan berkembang. Masyarakat industri tidak memberikan sedikit waktu bagi pelakunya untuk berpikir akan apa yang mereka perbuat. Peradaban hanya akan sampai pada titik ini.

Bumi tidak akan mau lagi memperpanjang kontraknya dengan manusia. Bumi lelah menjadi budak manusia. Dengan kontrakpun, manusia banyak melanggar kesepakatan yang telah dibuat. Jadi, silakan perbuat apa yang kalian suka, semuanya toh akan samasaja, semua akan berujung pada musnahnya kalian.
Dengan 7 hari seminggu, 5 hari bekerja dan 2 hari istirahat manusia hanya berada pada titik yang sama. Mereka hanya berjalan di tempat. Dengan hanya mengejar cita-cita simbolis mereka, pencitraan diri, dan status yang mereka inginkan, manusia industri memiliki banyak tuhan baru yang dapat secara langsung memenuhi berbagai kebutuhan dan kepentingan mereka.

Esensi kerja yang sebenarnya hanya untuk kebutuhan subsisten telah berubah. Orang bekerja hanya untuk kebutuhan-kebutuhan abstrak yang bodohnya hal abstrak tersebut sangat dipercayai. Generasi yang mendewakan logika dan rasionalitas ternyata masih percaya pada hal yang sifatnya abstrak, superfisial, sesuatu yang invisible hand.

Lalu apa maknanya hari Natal? Hari sejenak berkontemplasi, introspeksi, berpikir ulang atau waktu yang digunakan hanya untuk beristirahat sejenak lalu kemudian bersiap untuk bekerja lagi demi menghidupi kebutuhan simbolis mereka. Hari libur yang asalnya merupakan hari yang suci dan digunakan untuk berkontemplasi juga untuk berdoa pada tuhannya sekarang hanya dipandang sebagai waktu kosong yang tidak produktif. Waktu yang digunakan bagi perputaran simbolis belaka, arena eksistensi diri, dan juga tempat membuang peluh semata. Jika natal hanya dipandang seremonial misa pada malam natal saja, natal hanya akan menjadi tempat sampah belaka. Natal yang tidak lagi sakral hanya menjadi tempat bagi pembuangan peluh kerja seminggu dan ajang konsumsi simbolis belaka.

Semoga natal tidak hanya sebuah simbol yang miskin makna tetapi simbol yang berisi berbagai makna yang berfungsi sebagai cermin bagi manusia dalam menjalani hidupnya. Semoga natal sedamai slogannya yang banyak disiarkan di berbagai stasiun televisi nusantara.

Selamat hari raya natal! Walau makna natal kini hanya hidup si antara celah sempit rutinitas kerja!

Local Disorder

•June 9, 2009 • Leave a Comment

Perih…Merintih karena begitu perih. Tak bisa tenang dan terus bergerak. Bergetar untuk sekedar mengalihkan sementara rasa sakitnya. Menarik dan mengehembuskan nafas dengan cepat, dengan sesekali menahannya. Sampai saat ini semuanya telah dilakukan namun tetap berbuah sama dan tak kunjung berubah. Yang terasa hanyalah lilitan perih yang membuatku begitu merintih.

Air hangat sekarang telah kutengguk untuk mencoba menetralkannya, namun tetap saja ia bergemuruh. Bergejolak, loncat tak mau diam. Seperti banyak riuh ramai di dalam sana. Wahana permainan yang terus bergerak dan berputar tak kunjung usai. Kucoba duduk, berdiri hingga setengah berlari namun ia tak kunjung pergi. Ia masih terus asik berputar dan berputar di dalam sana. Membuat kaki gemetar dan memaksa mata berkedip lebih cepat. Segala posisi dan tindakan baru telah dicoba namun tetap saja ia berputar cepat. Berlari sambil membawa sebuah silet sembari menggesekannya di dalam sana. Gesekan tipis yang membuatku begitu merintih dan tertatih-tatih.

Kucoba kembali membiasakan posisi tubuh seperti bisanya. Memekakan segala indera untuk mendeteksi kembali kehadirannya. Ahh… ia tetap saja tak mau melepaskan silet tajamnya. Kupaksa ia. Kupaksa dan terus kupaksa hingga akhirnya ia merenggangkan pegangan akan benda tersebut. Namun apa mau dikata, ia tetap melakukannya walaupun tidak sesering sebelumnya. Pucuk silet tersebut masih bisa terasa hingga sekarang. Membuatku sesekali mengerang. Perih dan merintih.

Sekarang kucoba melambatkan nafas. Satu, dua, tiga….. dengan tarikan napas lambat yang teratur, pelan-pelan kucoba untuk menikamnya dari belakang. Namun percuma, lagi-lagi percuma. Ia begitu waspada. Peka akan gerakan-gerakan yang hadir disekelilingnya. Kali ini ia mebuatku benar-benar tersengal. Tak kuasa harus berbuat apa. Kali ini ia sepenuhnya mengasaiku. Ia menjadi tuanku dan aku menjadi budaknya.

Sekarang aku berpikir. Berpikir kuat yang direspon lebih kuat lagi dengan hujaman palu godamnya.Lalu,..apa,lalu..apa..lalu….. Apakah benar ia merupakan bagian dari suatu struktur organis. Ada apa pula dengan struktur di dalamnya hingga ia bisa mengganggu makhluk lain di dalamnya. Semua tak bisa berjalan seperti semestinya karena ulahnya. Setiapnya tak bekerja sesuai fungsi dan keahliannya. Karena satu darinya rusak, membuat yang lainnya menajadi retak. Seolah tak ada detak.

Kini perihnya semakin menjadi seriring rasa kantuk dan tekanan gaib lainnya yang datang mendera. Semua kacau….. Tak ada yang berjalan dengan baik. Semua hancur dan runtuh. Amblas dan ambruk. Ia memaksaku untuk berlutut di hadapannya. Mencium dan memuja kuasanya. Namun kali ini semua perlahan terbalik. Tekadku dan gengsiku lebih besar dari tekadnya untuk menundukkanku. Semua berubah 180 derajat. Kucoba bisikkan rayuan pada lainnya agar tak tunduk dan bergantung padanya. Kudorong mereka untuk bekerja seperti yang sebelumnya. Ayo….Lekas tutup telinga kalian. Jangan dengarkan dia. Kalian masih bisa berdetak tanpanya.

Akhirnya semua terhasut bisikanku. Perlahan semua bekerja. Bahkan ia sekarang ada di bawah kuasaku. Ia tak lebih hebat dari yang lainnya. Ia sekarang sama rata dengan yang lainnya. Semua telah berjalan lancar hingga aku tak lagi perlu menancapkan pengaruhku di dalamnya. Kini lambungku telah bekerja seperti semestinya Kini ia dapat mendukungku hingga bait akhir dari tulisanku ini.Ha…ha….. Aku menang. Aku bisa menguasai lambungku sekarang.

overslept

•May 27, 2009 • Leave a Comment

Kau meninggalkan aku. Cintaku, semalam kau meninggalkan aku dengan begitu sunyi. Itulah salah satu daya pikatmu. Sifat yang membuat aku begitu jatuh padamu. Sikap diammu menenangkan hati. Bisumu membuatku ingin semakin erat memelukmu. Cinta, semalam kau begitu lembut meninggalkan aku tertidur di tumpukan bantal kapasku. Kau begitu lihai me-nidurkan-ku. Kau seperti ibuku di waktu lalu, me-ninabobokan-ku, mengelus rambutku hingga aku jatuh tertidur dalam pelukan guling kecilku. Terima kasih untuk terus tetap terjaga, mengajakku lembut berbicara. Cinta, hampir setiap malam aku tak sadar bahwa kau telah melepaskan sandaranku di bahumu. Kau dapat lembut melepaskannya tanpa membuatku terbangun. Sayang, kumohon temani aku lagi esok malam.

Further

•May 26, 2009 • Leave a Comment

Malam ini lagi buta. Gelap. Tak ada lagi yang terbuka. Pekat, liat, dan begitu senyap. Kalap lagi tak bisa terlelap. Tak tergeragap dan terkunci. Langit bisu nanar menatapku. Tak secuilpun terujar darinya. Teman baikku kini memusuhiku. Ia menghujamku. Tak segan memberondongku dengan sarkasmenya. Haa, ia terkekeh. Ya ia, terkekeh tanpa malu tepat di muka ku. Aku ditundukkannya. Kini aku hanya bisa berlutut. Tinggiku kini hanya setinggi tempurung lututnya. Seluruh tubuhku diplesternya. Diikat rapat hingga berkarat untuk kemudian menungguku sampai mati tak bernafas tak berbekas.

Malam ini lagi gelap. Hitam pekat tak berdetak. Tak lagi ada yang bisa kulihat. Hitamnya mengiris pelipis mataku. Aku benar-benar kehilangan pijakan sekarang. Tiap langkah hanyalah lumpur hisap. Diriku tenggelam dan dihujam. Kucoba meraih benda disekitar untuk menahanku. Tapi,…yang kuraih hanyalah kaki-kaki raksasa yang malah menginjak kepalaku dan mencoba meneggelamkanku lebih dalam dan dalam dan karam. Kucoba berteriak. Menjerit dan berderit. Tapi percuma, setengah mulutku telah terisi oleh lumpur kotor. Makin kuat ku berteriak, makin mantap ku terinjak

Malam ini diam. Tak berdian. Visiku sepenuhnya terhadang oleh hamparan atap maha luas. Pendar catik cahayanya kini tak lagi bisa menginspirasi ruang-ruang imajinasi. Semuanya masih pekat. Tak lagi ku bisa menikmati indahnya lukisan itu. Goresan kuas yang begitu alami itu telah menghilang, kabur atau mungkin juga tertidur. Walhasil, di sudut sebuah ruang aku kini mengerang. Mengambang tak berpijak atau bahkan melayang. Mengawang dengan meringkuk sembari sepenuhya tertunduk.

Rasaku kini meringis melihat mataku tak bisa menangis. Sarafku turut berbelasungkawa karena tubuhku beku. Juga asaku yang hanya bisa bernostalgia karena citaku sepenuhnya terpaku, dikunci waktu. Tak ada lagi harapan bahkan untuk sekedar berharap. Tak juga ada gerak dan detak. Segalanya telah retak. Terpisah, berhamburan, dan berserakan di tepian malam. Tak apa. Sungguh tak apa. Toh, Semua akhirnya akan hilang disapu bersih oleh derasnya hujaman waktu.

Mengapa? Memang kenapa? Jangan terperangah seperti itu. Ya akuilah! Ya, kau begitu terengah-engah.
Ha..haa… Tenang! Tadi ku hanya membiarkanmu sedikit bersenang-senang.

Sayaaang, sungguh kali ini aku sedang tidak bermuram durja. Kenapa? kau kaget Cinta? Bukannya duka cita hanyalah ungkapan dari sebuah bongkahan rasa? Sungguh, aku bersungguh-sungguh Sayang. Aku pun sepenuhnya tahu bahwa kau mengerti aku. Bukankah sebelumnya kita pernah duduk bersama membicarakannya. Sungguh Sayangku, aku tak sedang bercanda. Tak mengapa aku didua karena aku sebelumnya pernah menjadi yang ke dua puluh dua. Bukan masalah besar. Karena aku begitu memuja tubuh indahmu. Aku pun rindu di kala itu. Masa ketika aku begitu menikmati tubuh indah telanjangmu. Saat tubuhmu dihiasi manik-manik, dan berjuta ornamen cantik, saat ketika aku menghisap habis seluruh aura birumu.

VIH

•May 2, 2009 • Leave a Comment

Apa yang terjadi pada hari ini telah terbayang, terpikir, terlebih begitu dikhawatirkan sejak lama. Sejak tahun, bulan, minggu, dan tepatnya kemarin hal ini telah menggelayut. Menggantung kritis dan membayang lekat dalam setiap gerak-gerik. Siaga penuh untuk merengkuh. Berdiri tegak untuk menyergap. Tanpa iba untuk membunuh dan menggantung setiap asa. Melindas semuanya dengan tanpa satupun yang tersisa. Tak ada yang tersisa hingga semua rata dan sama.

Ya, virus ini telah begitu lama hadir. Menyebar luas dan bebas. Tanpa sepeser biayapun dikeluarkan. Gratis tanpa karcis. Gratis layaknya nostagia untuk mendapatkan pendidikan formal. Tak satupun yang mempunyai kuasa untuk melawannya. Matanya mengawasi seluas samudra dan telinganya mendengar sejauh gerak revolusi bumi atas matahari. Telah banyak yang menjadi korban. Ada beberapa yang sadar mereka ialah korban. Namun sisanya mengaku bukan sebagai korban melainkan pelayan.

Virus ini merupakan sebuah endemik. Ia menyebar luas tak kenal jarak dan waktu. Ia hidup tiap waktu dan di hampir tiap ruang manusia menapakkan kakinya. Hanya ada beberapa daerah saja yang masih belum terjamah virus ini. Belum! Namun mungkin tak lama lagi ai akan segera menjamah dan menggerayanginya. Hanya tinggal menunggu putaran waktu saja untuk melihat mereka semua menyembah virus hebat ini. Menyembah dalam-dalam. Tunduk seolah ia yang memegang semua nilai. Hingga ia pun tak lagi dapat disanggah.

Semua lantas melindungi nilai ajarannya. Mereka,..entah..kita mungkin kelak tak dapat menghindar namun tetap masih dapat menyangkalnya. Semakin kuat kita berlari maka semakin kuat pula virus ini mengiris urat nadi kita. Ajarannya Esa. Siapa yang menyangkalnya, segeralah membuka mata. Jika tidak, lebih baik kalian mati saja. Itu mungkin lebih baik, jika tak mempunyai alternatif dan pihan-pilihan lainnya. Ya, itu bisa lebih baik, daripada seolah semuanya menjadi lebih baik. Daripada dibunuh oleh bulus halus lebih baik membunuh namun masih tetap tersadar. Walaupun teramat perih, namun kita sadar bahwa kita telah akan sampai dan semuanya seolah telah tergapai. Habis sudah. Selesai

Namun meskipun ia begitu hebat, tetap saja ada yang terlewat olehnya. Bertahan mungkin tepatnya. Ada saja yang mampu bertahan di bawah naungan hitam bayangannya. Mereka memiliki antibodi yang tumbuh secara alami. Antibodi yang diciptakan oleh dirinya sendiri. Zat yang kelak mungkin dapat menjadi sebuah serum. Zat yang mungkin akan lebih terasa, ketika yang beberapa yang lainnya juga mampu memproduksi zat yang sama. Antobodi yang ternyata tak dimiliki oleh satu orang saja.

Sayang lagi sayang, mereka kerap malu atau mungkin juga tak punya cukup nyali. Mereka tak bercerita tentang antibodi pada sesamanya. Terlebih, mereka juga tak tahu ada pula yang memiliki antibodi layaknya yang dimiki mereka. Berbagai tekanan yang membuatnya diam berjuta bahasa. Satu paranoia karena takut serumnya kelak malah berbalik membunuh mereka.

Pun, ketika mereka telah mampu bersama. Saling berbicara mengenai antibodinya. Meraciknya hingga menjadi serum bagi virus yang begitu berbahaya. Namun akhirnya, serum ini toh akan mati juga. Mati bersama semakin hebat penyebaran virusnya. Serum yang hanya mampu membuat mereka merangkak untuk sementara. Merangkak dan hanya untuk sementara! Merayap dengan tak sedetikpun mampu berdiri tegak. Merangkak beberapa saat untuk akhirnya jatuh lumpuh. Mati. Lumpuh, luluh hingga akhirnya luruh.

Silently Sleep

•April 10, 2009 • Leave a Comment

Hingga tengah hari udara terasa begitu panas. Kering dan berdebu dengan sedikit kandungan uap air yang berlarian bebas di udara. Kerikil kecil berterbangan, mengikuti kemana arah angin berhembus. Pancaran terik surya begitu menusuk kulit luar. Membuka kerapatan pori-pori untuk berkeringat lepas. Berkeringat lebat yang membuat debu melekat kuat di lapisan kulit terluar.

Hanya terlihat sedikit keramaian di berbagai sudut ruang publik. Amat jarang di antara mereka yang sedang beraktivitas langsung di bawah hujaman terik matahari. Sedikit kumpulan mungkin bisa terlihat di berbagai tenda makanan kelontong yang berada sepanjang jalan keluar. Berlindung dari serangan panas sambil menikmati berbagai sajian segar nan murah di pinggiran jalan yang kotor dan dipenuhi oleh berbagai teror dari rangkain tempelan poster dan stiker.

Untuk akhirnya tersadar bahwa hari ini merupakan hari yang suci. Setidaknya, hari yang dahulu dianggap suci. Waktu yang sekarang justru banyak ditarik dan bukan direnggang. Waktu yang dihabiskan dalam berbagai ruangan lux untuk sekedar menghela nafas, alih-alih membuat teregah-engah. Beragam ruangan yang terisi penuh diferensiasi produk massa. Etalase menarik yang berdiri di sepanjang ruangan yang memajang rangkain bualan dan beragam tanda rekaan.

Dalam gedung besar yang berisikan jutaan materi dan informasi, lagak memuakkan sudah bisa terasa. Tak banyak berbeda dengan ruang lux di luarnya. Semua mulai membina hubungan emosional virtual. Mereka seolah lupa kehadiran makhluk yang masih satu spesies dengannya, yang hanya berjarak kurang dari satu meter dekatnya. Masing-masing asik jalan ditempat dan tetap di jalurnya. Hingga akhirnya hujan menerpa tanah, membuat mereka terjebak dan semakin malas untuk bergerak. Drama ini akhirnya semakin menjadi-jadi. Drama yang tidak diisi dengan peran yang jelas. Drama yang hanya merupakan satu perulangan yang mudah untuk dapat ditebak akhir ceritanya.

Sampai beberapa jam berlalu, hujan tak hentinya mereda. Membawa luapan aliran hulu ke hilir. Menghanyutkan sampah oleh air yang telah bersatu dengan tanah merah. Meredam berbagai asa oleh hingar deras suaranya. Sekarang, tanah subur yang sayangnya telah menjadi lumpur. Materi yang tidak lagi banyak berguna. Onggokan materi yang hanya menjadi sebuah sedimentasi.

Di sekeliling gedung yang terasa hanyalah sepenggal kesunyian. Kesunyian dalam keramaian. Kesunyian yang seharusnya tidak harus terjadi. Kesunyian yang tidak pada tempatnya. Kesunyian yang banyak diaggap sebagai sebuah selebrasi. Hingar bingar dan selebrasi atas peradaban yang sekarang mengambil jalan melalui sebuah kesunyian. Keriuhan yang cukup diciptakan melalui suatu ketikan jari. Ketikan jari dan tubuh yang seolah mampu mendobrak keterjebakannya dalam ruang dan waktu tertentu. Kesunyian yang hadir akibat begitu hidupnya suatu simulasi. Satu usaha tak kenal henti yang dilakukan berdasarkan ketakutan terbesar manusia atas suatu kesunyian, kesepian, dan kegelapan.

Keramaian dan hingar bingar yang bermain pada seutas kesunyian. Pada ranah digital nan virtual. Keramaian, hingar bingar,senyum, dan bahak tawa dangkal yang dimediasikan oleh berbagai gadget. Gaya baru meditasi manusia post-industri. Menyangkal dan menghalau masalah dengan duduk diam selama berjam-jam. Duduk berkonsentrasi. Melihat cerminan diri dan dunia melalui layar LED dan LCD. Manusia sebenarnya yang hidup dalam miniatur dunia. Miniatur dengan skala yang jauh berbeda namun benar-benar hidup dan nyata. Dimensi terpercaya yang dapat memberi hal yang tidak akan pernah ada, mengisi fantasi manusia, dan menjadi obat penenang atas luka-duka mereka. Menjadi relung hidup baru dan menghapus kesunyian yang dialami olehnya selama jutaan tahun lamanya

Semua layaknya anak burung yang menunggu induknya pulang ke sarang. Berkumpul membentuk lingkaran sambil menunggu kehangatan tubuhnya. Semua pasif di bawah dia. Instruksi marah, benci dan tertawa ada padanya. Saraf kita telah benar-benar dikendalikan olehnya. Kita tak lagi mempunyai kuasa, bahkan untuk tiap-tiap dari kita. Kita menjadi budak atas manusia baru ciptaan kita sendiri. Terseret dan terpenjara dalam hidup yang menawarkan berjuta pilihan warna.

Hingga akhirnya, saat hujan telah mulai mereda, saat mereka baru saja menutupnya, barulah jantung hidup yang sebenarnya mulai terasa. Pintu yang sayangnya mengapa tidak mereka buka sejak beberapa jam sebelumnya. Saat hujan baru turun dan semakin lama, semakin mendera. Pintu yang mengapa baru dibuka saat hujan telah mereda dan hampir tak tersisa. Pintu yang mungkin lebih dapat menghangatkan tubuh dan perasaan saat dingin hujan dan senyapnya malam menyapa. Pintu yang saat ini semakin lapuk karena jarang sekali dibuka. Yang semakin tergantikan oleh satu pintu baru lainnya. Pintu yang entah kapan lagi akan selalu terbuka, yang semoga semua masih merindukan ke-terbuka-an-nya. Pintu yang mengingatkan kita kala masih belum mengenal ini semua. Pintu yang tak sepantasnya begitu saja kita lupakan atas kehadiran pintu baru lainnya. Semoga…..

Mata Senja

•March 25, 2009 • Leave a Comment

Langit masih biru dengan sedikit semburat jingga fajar. Sedikit. Sungguh masih amat sedikit. Langit bak hamparan layar lebar biru tua yang masih begitu dominan di atas mata. Bulan masih sedikit tersisa, namun telah hampir memudar. Beberapa bintang masih tetap di sana namun telah bersiap pergi dari hadapan mata. Tumbuhan hijau terlihat begitu mengkilat dengan butiran embun yang telah bersandar sejak tadi malam. Uap air hasil hembusan napas pun masih bisa terlihat oleh mata telanjang. Pagi itu, lapisan luar tanah basah pun masih sedikit licin untuk dipijak. Kala itu juga saya bersiap untuk memulainya. Memulai untuk mengakhirinya.

Hingga saat fajar telah cukup tinggi, saya mulai mendaki jalan rusak nan menanjak. Fajar belum cukup tinggi namun masih tetap sulit untuk dijangkau tangan. Terasa begitu berat untuk mencapai tempat tujuan, untuk akhirnya saya memutuskan untuk menepi. Berhenti untuk sedikit menghela napas sembari membeli bekal makan untuk pagi ini.

Dengan rasa kantuk yang luar biasa dan sinaran fajar yang tertangkap perih oleh kornea mata, saya berdiri ragu di depannya. Ada aroma khas yang bisa langsung terasa.Ah… Kayu bakar. Ya… aroma kayu bakar bercampur dengan tanah liat yang telah mengeras serta adonan tepung beras yang begitu bernas. Aroma yang mengundang cita rasa. Aroma yang dapat membuat anda ingin bergegas menghampiri dan menikmatinya.

Hingga akhirnya saya sedikit menjatuhkan diri, membiarkan gravitasi membuat saya terduduk dan menyandarkan tubuh di bangku bambu panjang nan lembab. Bangku bambu ini terletak di bawah bangunan persegi semi permanen dengan beratapkan bilik yang telah begitu menghitam. Luas bangunan tempat berjualan ini sekitar 3×3 meter2. Tiap sudut ditopang oleh bambu yang berdiameter kurang lebih 30 cm. Bambu besar ini dihiasi oleh goresan lumpur kering yang menempel di hampir sepanjang permukaannya. Lantainya beralaskan tanah. Becek dan licin saat musim seperti ini. Kering dan berdebu saat musim kemarau tiba.

Setelah memasan sebuah, mulai terdengarlah obrolan khas pembuka hari. Ada empat orang di sana, termasuk dengan saya. Satu, si penjual. Nenek yang mungkin telah memasuki kepala tujuh puluh serta bertubuh kurus. Ia jongkok di samping ranting-ranting kering dan menghadap tungku. Makin terlihat kurus ia, saat meniup api dengan menggunakan bambu kecil untuk membuat makanan pesanan agar matang merata. Satunya, pemuda berumur sekitar awal dua puluhan. Ia duduk tepat di samping kanan saya. Sambil mengutak-atik ponselnya, ia menunggu pesanan datang. Orang ketiga, nampaknya berumur setengah baya. Berambut ikal dan masih basah. Orang terakhir adalah saya. Bermuka pucat, bermata merah, dan berjaket kumal.

Obrolan pertama yang terdengar ialah keluhan dari pria setengah baya yang sendalnya putus. Ia mengeluh dengan sendalnya dan bertanya pada yang lainnya perihal sendal yang awet nan murah. Kemudian obrolannya ditimpali oleh sang pemuda dengan mengajukan pernyataan tentang berbagai bentuk morfologi sendal yang cocok di saat musim penghujan. Sayang, menurutnya sendal ia sendiri, yang saat ini sedang dipakainya, amat licin untuk dipakai di atas permukaan tanah basah. Si penjual belum turut bicara dan masih terfokus pada adonan yang masih setengah matang.

Kemudian alur percakapan berbelok pada masalah barang komoditas tertentu yang sedang laku untuk dijual. Pria setengah baya yang memulai percakapan ini. Yang lainnya cenderung hanya mengaimini saja omongan si pria dan membalas pendek sekali-kali. Sayang, saya tidak begitu mengerti percakapan kali ini karena bahasa yang digunakan tidak cukup dapat saya mengerti. Saya mengabaikannnya, sambil mengambil sebatang rokok dan segera menghisapnya di tengah dingin pagi.

Terakhir, saya memperhatikan mereka sedang membandingkan harga-harga rokok yang murah. Mereka membandingkan harga-harga rokok lokal. Mana yang termurah. Mungkin mereka melakukannya karena pria setengah baya baru saja membeli setengah bungkus rokok kretek dan mungkin juga omongan tentang harga tersebut mengalir secara spontan dari mulutnya. Mengalir begitu saja tanpa rencana. Mengalir tak terencana layaknya hidup manusia.

Menunggu pesanan dan memperhatikan mereka bicara, saya menuangkan segelas teh hangat. Teh tawar hangat yang membantu dalam mengawali proses metabolisme tubuh saya hari ini. Beberapa tegukan saya nikmati, hingga saya ambil lagi sebatang rokok untuk dihisap dari tas yang diletakkan di atas paha. Setelah saya perhatikan lebih lama, ternyata ada beberapa hal yang sama sekaligus berbeda. Ada yang menarik di sini. Sesuatu yang jarang terusik atau bahkan tak sempat untuk dilirik.

Pertama, saya dan mereka berbeda. Saya masih lusuh sedangkan wajah mereka telah segar. Kedua, mereka baru akan memulai aktivitas hari ini sedangkan saya baru akan menutup aktivitas hari sebelumnya. Ketiga, mereka menghisap rokok lokal sedangkan saya menghisap rokok luar namun lembar sahamnya telah banyak dibeli oleh perusahaan rokok lokal yang sedang mereka hisap. Terakhir, mereka nampak saling kenal dan saling bercakapan, saling mengutarakan ide dan gagasan, sedangkan saya dengan blah-bloh sambil terkantuk-kantuk hanya diam sambil menghisap rokok dan mencoba memperhatikan topik pembicaraan mereka.

Setelah melihat perbedaan, ternyata mulailah terlihat beberapa kesamaan diantara saya dan mereka. Yaa, cukup banyak juga perasamaannya. Pertama, kita sama-sama menghisap rokok. Kedua, di pagi hari kita telah mendonorkan uang kita secara sukarela pada taipan pemilik perusahaan rokok. Ketiga, kita sama-sama membuang puntung rokok seenaknya. Selanjutnya,obrolan mereka tidak jauh berbeda juga dengan obrolan saya dengan teman-teman saya yang lebih “berpendidikan”. Bisa dikatakan perilaku mereka tidak ada bedanya dengan saya. Ngomongin orang di belakang, jelek-jelekin politisi. Pokoknya omongan-omongan yang sifatnya super makruh.

Hingga akhirnya tiba pesanan saya. Saya segera berdiri dan memberikan sejumlah uang. Namun dibuat sedikit panik saya, setelah saya menemukan bahwa sejumlah uang yang saya bayarkan ternyata kurang sebesar dua ratus rupiah. Setelah mencari di sejumlah saku celana, jaket, hingga di balik resleting tas, saya akhirnya pasrah. Ya, saya kekurangan uang untuk membayar surabi telor pesanan saya. Dengan sedikit bersilat lidah, membual, sambil meminta maaf pada sang nenek penjual, saya terus berpura-pura mencari uang yang seolah masih tertinggal di saku celana. Namun betapa lega sekaligus malu setelah si nenek mempersilahkan saya membawa sarapan pagi saya walaupun bayaran saya kurang. Hal yang tidak akan pernah saya temui di tempat makanan yang telah berliesensi atau bahkan mungkin di warteg yang kini terasa makin mahal. Ah begitu lega…Akhirnya saya bisa menikmati sarapan surabi pagi untuk menutup hari yang sia-sia, konyol, dan tak berguna. Begitu lezat setelah menikmati surabi telor sebelum saya memulai tidur panjang dalam rangka menutup hari panjang yang melelahkan nan tak berguna.

Alunan Nada Senja

•March 2, 2009 • Leave a Comment

Ketika hujan mereda dan genangan air mulai meresap ke tanah melalui gaya kapilaritas, perlahan terdengar suara yang seolah membentuk suatu alunan nada. Bunyi yang terdiri lebih dari satu suara. Alunan nada yang hinggap melalui medium udara dan menggema dari tanah lapang yang diselingi rerumputan basah. Suara yang tak kunjung berakhir hingga beberapa jam lamanya, Suara-suara yang terdengar asing di telinga namun terasa pernah terdengar sebelumnya. Entah kapan dan di mana.

Untuk beberapa saat, kemudian mencoba memekakan telinga. Beberapa menit berlalu tapi saya belum bisa untuk mengenali suara siapa. Akhirnya saya mencoba untuk mengenalinya langsung melalui penglihatan mata. Perlahan berdiri untuk kemudian melangkah ke tepi jendela untuk mengenali siapa mereka. Hingga di tepi jendela, pelan-pelan saya menyibakkan tirai dan mencoba mengenali mereka. Namun sayang, di belakang kaca riben jendela, saya belum juga mampu mengenali sepenuhnya siapa mereka. Yang terlihat hanya berupa deretan objek gelap yang berjajar panjang namun belum terlihat wujud aslinya.

Hingga pada akhirnya, kuputuskan untuk segera mendekat dan menghampiri mereka Kemudian, seiring jumlah langkah yang semakin bertambah, saya semakin mendekat ke tanah lapang basah. Tak lama wujud mereka sudah mulai teraba. Semakin dekat, semakin saya memelankan derap langkah agar tak mengusik mereka. Hingga akhirnya saya berhenti dan berdiri sekitar 2 meter dari mereka.

Akhirnya, hilang sudah rasa penasaran saya akan berbagai suara bak alunan nada di kala senja. Saat ini saya berada tepat di hadapan mereka. Saya juga tahu siapa mereka. Ya mereka ialah segerombolan angsa yang berbaris membentuk satu banjar. Mereka berbaris rapih dengan jarak setengah rencang kanan sayap mereka. Sungguh sudah sangat lama saya tidak melihat angsa. Terlebih melihat mereka di kala gelap senja dan sehabis hujan reda. Sungguh cantik pemandangan yang menakjubkan buat saya.

Mereka berwarna putih. Tidak seputih dan seindah yang seperti yang digambarkan pada dongeng memang. Terlebih secantik angsa yang terdapat di dataran luas Afrika. Tubuh mereka dominan berwarna putih dengan dihiasi goresan dan bercak hitam pada beberapa bagian tubuhnya. Saya mencoba menghitung berapa jumlahnya. Satu, dua, tiga….. dan ya, mereka semua berjumlah delapan ekor. Ah… tidak, saya belum merasa yakin. Saya hitung mereka kembali dan hasilnya ternyata ada 9 ekor. Satu ekor yang terlewat sebelumnya berdiri di ujung kanan barisan di belakang yang lainnya. Moncongya berhadapan langsung dengan bulu ekor temannya. Ia sama dengan yang lainnya bernyanyi dan terus bernyanyi.

Entah mengapa angsa-angsa ini dapat memukau saya. Entah bagaimana pula mereka dapat membuat saya terkesima. Apa yang membuat mereka begitu berbeda di hadapan saya. Ahh, mungkin mereka sungguh berbeda dengan apa yang hadir di sekitar dunia sehari-hari saya. Sungguh langka dapat melihat mereka di pinggiran kota. Mereka sungguh menyegarkan mata di tengah-tengah asap mobil Jepang dan Eropa. Terasa indah mendengarkan suara mereka yang sudah teredam oleh riuhnya suara anak-anak adam dengan berbagai gadget canggih ciptaan mereka. Tubuh mereka sungguh elok dan terasa lembut di mata, di tengah-tengah tancapan berbagai konstruksi bangunan kokoh karya para tunas bangsa. Terlebih, design tubuh angsa jauh lebih cantik dan ramah dibanding dengan rancang bangun gedung pencakar yang monoton bentuknya. Raksasa itu membuat mata terasa perih karena sinar matahari terasa lebih menusuk akibat terkena pantulan keca-kaca tebal dan mahal milik mereka.

Tak ada maksud dibalik ini semua? Saya hanya lega setelah sekian lama tidak melihat dan mendengar suara angsa. Saya merasa beruntung memiliki kesempatan untuk melihat mereka yang mungkin di hari-hari berikutnya akan hilang dan tiada. Mereka membuat saya bernostalgia. Bagai mesin ketik yang saat ini telah dikelilingi oleh mesin ketik elektrik. Mereka begitu bermakna. Terima kasih angsa…

Magic Mirror

•March 2, 2009 • Leave a Comment

Saat ini hanya begini. Duduk bersandar, menghela nafas lebih dalam, sambil memandang langit dengan bersuara latar gemericik air hujan yang memantul ke tanah basah. Suara panggilan tuhan terdengar samar, tak begitu terdengar. Suaranya masih belum seberapa jika harus disandingkan dengan gempita suara alam yang begitu ritmis dan harmonis. Begitu lembut hingga daun telinga dan nampak bersahaja di mata.

Masih di sini dan tetap begini. Nyamuk senja perlahan mulai mendekat. Memohon izin alam untuk sedikit meminta darah dari spesies lainnya. Tak apa buat saya. Tak apa dan entah mengapa, sejak saya sadar hidup se-alam dengannya. Sungguh tak apa, sejak siklus hidupnya merupakan bagian dari siklus hidup manusia, sejak kita semua bagian dari siklus maha alam raya.

Kemudian hingga langit senja mulai menua, semua masih serupa. Gemericik air tetap terdengar lembut di telinga. Langit biru tua masih cukup sempurna, meski ribuan bintang dan cahaya redup rembulam belum mewujudkan rupa. Fuhhh…. sekarang gigitan mereka mulai gatal terasa. Tak apa, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya. Tak apa saya bilang, sedikit garukan tangan akan segera menghilangkannya.

Masih terus tetap di sini. Seiring semakin redanya hujan yang diikuti oleh suara rintikkannya yang semakin pelan. Perlahan sekelumit pikiran dan selekebat bayangan perlahan mulai bermunculan. Entah mengapa. Percuma, waktu hanya bisa memendamnya, namun akhirnya ia akan tetap hadir juga. Beragam peristiwa yang hadir pada detik, menit, hari, bahkan ratusan tahun yang lalu nampak sedikit berbeda dan mulai menyingkap makna yang tersembunyi di baliknya. Semua berbeda sejak mereka mampu merakit tanda. Semua serupa namun terlihat sugguh berbeda sejak mereka mampu memanipulasi tanda dan saling merangkainya. Semua mencoba berbeda namun akhirnya bertemu pada titik yang sama. Serupa, sama, tak ada beda.

Berbagai realita yang benar-benar nyata dan hadir di layar kaca dengan sejuta warna tak ada yang berbeda. Mareka yang masuk melalui berbagai medium semuanya terlihat sama. Hadir dalam berjuta kata dan ribuan acara namun tetap miskin makna. Semuanya pure simulacra. Segalanya artifisial belaka. Beragam hal yang meraka ciptakan seolah memberi kita berlimpah pilihan. Membuat kita banyak bermimpi dari hal fiksi. Mendorong kita mengejar suatu ketidakmungkinan dan bergentanyangan di alam angan-angan.

Mereka dengan cerdik merangkul seolah semua pilihan ada di tangan kita. Kita semua seolah subjek aktif dan memiliki kesadaran akan apa yang hadir di depan meja. Semua terserah anda karena pilihan ada di tangan kita. Kita semua telah ”terpaksa” diseret kesana. Mau bagaimana? Kita pun ”harus” kesana karena mereka juga telah ke sana. Kita bukan bagian dari dunia jika tidak seperti mereka.

Akhirnya kita hanya akan terdampar dan tiba pada sebuah lubang dalam yang sama. Walaupun sebenarnya kita memiliki beragam sikap dan cara, tapi setelah pemanipulasian tanda, kita hanya bisa menerima dan seolah tidak bisa berbuat apa-apa. Beragam hidangan hadir di meja dengan aneka rasa namun sayang semua terbuat dari bahan dan cetakan yang sama. Teksturnya beraneka ragam namun memiliki esensi yang sama.