Hingar suara sudah mulai terdengar. Alunan nada tak bertempo dan tak jelas ritmenya mulai tersaring oleh gendang telinga yang sudah amat peka terhadap suara-suara modernitas. Suara peradaban yang yang membuat manusia begitu takut akan kesunyian. Zaman saat manusia mencoba untuk mengupas keterasingannya. Hal yang kemudian hanya membuat manusia terasing dalam kebisingan,keriuhan, dan aktivitas kesehariannya.
Dari mulai fajar menyapa melalui sinar lembutnya, hingga bulan mulai mengambil alih tugasnya sebagai penerangan malam yang tak lagi gelap karena peradaban, jejak-jejak perayaan sudah mulai terdeteksi hingga beberapa hari sebelumnya. Dalam dunia yang seolah serba pasti, segala hal seolah mudah untuk dapat ditebak, karena dasarnya semua hal ialah merupakan perulangan yang cenderung sama. Perulangan yang membosankan. Perulangan yang hanya membuat aktornya terjerembab pada hal-hal yang semu. Kegiatan-kegiatan yang membuat manusia seolah masih ingin terus hidup. Rutinitas yang menjadi alasan utama agar manusia ingin terus mencapai cita mulianya masing-masing. Ide-ide yang membuat manusia merasa nyaman dalam perasaan ketidaknyamanan-nya.
Dalam berbagai rutinitasnya, manusia banyak melakukan hal yang sama tanpa ia tahu mengapa ia melakukannya. Seolah terdapat kekuatan abstrak yang menggerakan mereka. Kekuatan yang membuat mereka tak dapat bergerak untuk mengelak. Satu jebakan tikus ampuh yang membuat manusia terpaku dan seolah tak memiliki daya. Suatu kekuatan dari peradaban yang membuat manusia bergerak dan terus bergerak. Pergerakan yang sebenarnya menghipnotis mereka dalam pengulangan pergerakan yang menjemukan.
Peradaban yang banyak dikatakan bermula dari ditemukannya tulisan, telah melenceng terlalu jauh dari nilai-nilai asalinya. Peradaban yang bertujuan bagi efisiensi energi dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup manusia tidak lagi berada pada lintasannya. Nilai-nilai tersebut telah hilang atau setidaknya telah pudar dimakan waktu yang tak kenal kompromi. Saat ini peradaban melulu diasosiasikan dengan listrik, penerangan, internet, dan Blackberry. Peradaban ialah saat segalanya serba mudah, murah, dan singkat.
Peradaban dengan segala perayaannya telah bertransformasi menjadi segala kelimpahruahan yang tak berguna. Peradaban hanya menjadi selebrasi akan materi semata. Peradaban yang katanya diisi oleh manusia-manusia yang telah beradab yang telah pintar dan canggih untuk memanipulasi segala hal, termasuk keber-adaban-nya mereka sendiri. Manusia yang bisa dengan mudah untuk memutarbalikkan segala hal. Spesies yang terus dan terus mengejar berbagai kepentingan kosongnya dengan mengambil terlalu jauh jarak akan keber-ada-annya.
Tak ayal, semua hal terlihat kacau. Berbagai perayaan hanyalah menjadi tempat sampah untuk membuang segala keluh, peluh, dan kesah akibat keterpaksaan manusia bergerak dalam roda peradaban mereka. Perayaan hanyalah waktu kosong. Waktu tak berguna yang dapat mereka isi dengan kegiatan sesukanya. Aktivitas berupa sampah-sampah untuk memenuhi tong sampahnya.
Nampaknya juga, beberapa hari ini tong sampah tersebut hampir terisi penuh. Manusia sudah mulai memilah sampah-sampah untuk mengisi tong sampah besar tahunannya. Semua membicarakan tentang sampahnya masing-masing. Semua terfokus untuk merencanakan bagaimana caranya mengisi waktu sampah ini dengan berbagai kegiatan sampahnya.
Hingga kemudian tiba saatnya, mereka telah siap. Genderang tabuh pelampiasan kepenatan mereka tumpah disini. Berbagai tempat, sudut kota, perempatan jalan, hotel mewah,dan club malam menjadi wadah bagi pelampiasan nafsu libidinal manusia. Semua menggunakan ruang-ruang tersebut untuk merayakan pergantian tahun.
Semua bahagia akan euforia pergantian tahun. Euforia yang terjadi di atas berbagai nestapa. Euforia yang terjadi di saat beberapa kaum di luar mereka hanya bisa merasakan pedih derita. Waktu tak berguna, yang di saat bersamaan lainnya merupakan waktu krusial. Waktu untuk memilih antara hidup dan mati. Waktu yang tidak memberikan waktu bagi mereka untuk memikirkan berbagai perayaan dan selebrasi sia-sia semata.
Waktu yang untuk berbagai tempat dan orang tertentu dihiasi dengan berbagai kerlap-kerlip kembang api dan resolusi-resolusi basa-basi. Waktu saat orang dapat melihat berbagai warna kembang api menghiasi langit cerah penuh awan mereka. Kerlip kembang api yang tidak sampai terlihat pada beberapa orang diluar mereka. Kaum yang hanya bisa melihat debu, ledakan api, dan kepulan asap pekat yang menyayat langit sempit mereka. Orang-orang yang tak bisa mendengar luapan dan teriakan kebahagian pergantian tahun. Kelompok manusia yang hanya bisa mendengar tangis anak kecil yang kehilangan keluarga dan jeritan hati ibunya.
Saat semua berlomba untuk mencapai tempat tertinggi hanya untuk bisa melihat kilatan kembang api dan memotretnya untuk memenuhi memori telepon selular, di tempat yang lainnya semua mencoba berlari dari ancaman dan mencoba melupakan dan menghapus memori ingatan akan apa yang terjadi hari ini. Jika hidup bagaikan roda, buat mereka hidup bagaikan kusta. Penderitaan yang terus menghantui sepanjang masa hidup mereka.
Jika seperti ini, apakah pergantian tahun merupakan langkah menuju pada hidup yang lebih beradab. Satu kelompok bergembira ria dan lainnya berduka nestapa. Apakah juga ini model baru dari peradaban yang lebih awal. Peradaban yang ditandai dengan hak kepemilikan, stratifikasi, dan juga eksploitasi. Peradabaan saat satu kelompok berkeluh kesah dan sebagian kecil lainnya menikmati keluh kesah tersebut untuk kesenangan dan kepentingan mereka.
Hal yang sedikit berbeda saat ini. Pada satu tempat yang terdiri dari berbagai golongan, posisi, dan status, mereka semua merasakan apa yang terjadi. Merasakan segala penderitaan yang tak kunjung usai. Berbeda dengan masa awal pertanian, saat di suatu lahan diisi dengan orang yang tertawa dan di dekatnya ada orang yang terus dipaksa bekerja agar tuannya dapat terus tertawa haa..haa…
Segala acara seremonial tak berguna saat masa-masa pergantian tahun hanyalah selebrasi miskin makna dan tak tak berdayaguna. Semua juga hanya berkilah saat ditanya mengenai aktivitas di pergantian tahun baru mereka. Bersilat lidah bahwa apa yang dilakukan berguna dan dan bernilai bagi dirinya. Semuanya berusaha menutupi kecemasan mereka akan rutinitas yang akan dihadapinya lagi esok. Semuanya berusaha menutupi sunyinya dunia dengan berbagai kebisingan belaka.
Masa pergantian tahun hanya dijadikan tempat bagi harapan-harapan manusia tanpa harapan. Berharap dan terus berharap karena mereka tidak tahu akan wujud dari segala harapannya. Harapan yang muncul dari berbagai ketidakpastian yang ada di hari esok. Semua tahu bahwa harapannya tidak akan pernah terkabul, dan dari itulah mereka hanya bisa berharap. Semua yang ada di depan tidak akan pernah pasti dan berlabuh pada suatu landasan yang jelas.
Bahwa selebrasi pergantian malam masehi merupakan sampah daur ulang untuk memenuhi tempat sampah yang disediakan pada malam tersebut. Setelah daur ulang tersebut selesai, maka sampah tersebut tetap akan menjadi sampah lagi di tahun baru berikutnya. Semuanya begitu dan sepertinya juga akan terus bertahan seperti itu. Semua hal ialah perputaran yang tak berputar. Semuanya hanya berkumpul pada suatu tempat dan waktu, untuk kemudian berkumpul dan berulang lagi. Saat ketika manusia tak diberi waktu untuk berpikir akan berbagai perulangan pasif dan semunya. Saat manusia telah terlalu jauh berada pada trek eksistensinya untuk kemudian meluncur dan tidak bisa lagi mengendalikan dirinya saat menuju pada kepunahan mereka.
***
