Opor Ning Masjid
Seperti biasa, di akhir-akhir bulan puasa, menjelang lebaran, jumlah orang yang melaksanakan sholat taraweh di masjid dekat rumah saya selalu sedikit. Yang tersisa hanya para kakek, tetua RW, bapak-bapak DKM, sesepuh masjid, dan sedikit anak kecil dan ibu-ibu. Apalagi pada saat hari diguyur hujan. Jumlahnya semakin sedikit. Hal inilah yang saya lihat ketika saya melaksanakan solat taraweh pada H -2 lebaran kemaren.
Ketika saya tiba di masjid, penceramah sedang memberikan untaian-untaian nasihat pada sidang salat taraweh. Saat itu hujan masih dengan deras mengguyur. Dengan terhuyun, baju basah, kaki kotor, dan setelah menyimpan payung muka masjid, saya segera duduk bersila dan mendengarkan ceramah. Namun saya dibuat sedikit tertarik dengan format ceramah kali ini. Pada kesempatan ini tausiah dibuat interaktif. Ketika itu saya mendapati Pa Ustadz sedang menjawab pertanyaan dari sidang jamaah. Selain itu, posisi penceramah tidak berada di belakang mimbar, namun di sampingya dan tepat di depan jamaah. Posisi jamaah masjid pun, tidak kaku, berjajar sesuai safnya. Kala itu mereka lebih terlihat seperti membentuk posisi setengah lingkaran dan saling berdempet satu-sama lain, dan menghadap pada Pa Ustadz sebagai pusatnya. Tak ada satupun yang terlihat mengantuk ataupun terlelap saat Imam menyampaikan ceramahnya. Hal yang jarang saya temui di kesempatan lainnya. Semua jamaah nampak fokus namun santai mendengarkan ceramah kali ini. Sesekali mereka dibuat tertawa karena lawakan dari sang Imam. Situasi hangat yang jarang saya temukan di ceramah-ceramah lainnya. Apalagi dengan ceramah-ceramah yang mengundang Ustad sukarela tapi bayarannya puluhan juta. Heh
Dengan posisi yang nyaman dan terlihat seperti tak berjarak tersebut, jamaah dan penceramah semakin akrab. Banyak pertanyaan yang diajukan dan satu demi satu dijawab oleh Penceramah. Pada intinya pertanyaan dari para jamaah ialah berkisar pada boleh; tidak boleh dan benar; tidak benar. Seperti bolehkah solat sunah setelah sholat witir;apakah masih boleh kita melaksanakan solat jika waktunya telah lewat, dan apakah boleh jika blablaalh dan apakah benar jika blublubluh lainnya. Para penanya umumnya ialah kakek-kakek dan bapak-bapak DKM yang saya pikir mumpuni kemampuan ilmu agamanya.
Namun jenis pertanyaan di atas di jawab dengan santai bahwa aturan di Islam pun tidak saklek. Ia mengatakan bahwa agama kan turun buat manusia (yang punya berbagai masalah di dalamnya), bukan robot atau tembok yang pasif. Tentang apa yang benar dan yang salah, kenapa dia nampak salah di mata kita, atau kenapa kita salah di mata dia. Ya kira-kira begitulah menurutnya. Dan jawaban tersebut direspon dengan anggukan-anggukan kecil dari jamaah. Wah tumben saya pikir,ada juga ustadz yang begini ceramah di mesjid dekat rumah. Biasanya kan materi ceramah, baik jumaatan atau taraweh selalu sama sejak belasan tahun lalu ketika saya duduk di SD.
Akhirnya ceramah usai walau sebenarnya masih banyak jamaah yang ingin bertanya. Tak lama Pa ustad mengajak jamaah berdiri untuk melaksanakan solat taraweh terakhir di bulan ramadhan kali ini. Saya pun segera mengucapkan niatanan solat tarawih. USHALLI SUNNATAT TARAWIIHI RAK’ATAINI MA’MUUMAN LILLAAHI TA’AALAA. Ah hati terasa sejuk, apalagi terbayang opor dan kupat di esok hari. Muahhh. Subhanallah sekali.
