Tidak Kenapa-Kenapa
Kemarin saya dan beberapa teman sepermainan kecil di rumah, bertemu kembali. Kebetulan saat itu hari Jumat. Sebelum jumatan dimulai kami berbincang, ngobrol kesana-kemari. Namun tak seperti biasanya, ketika kami banyak berbincang tentang poin blank/ obrolan remeh sejenisnya, saat itu malah masalah perkerjaan yang kami obrolkan. Masalah yang amat jarang kami ungkit sebelumnya. Hal ini nampaknya dipicu oleh pertanyaan salah satu kawan yang menanyakan perihal lamaran kerja salah satu kawan kami. Kumaha gawe? katarima teu maneh? Begitu teman saya bertanya pada kawan saya satunya.
Sejak kecil kami tumbuh bersama. Dari taman kanak-kanak hingga hampir tamat universitas kami tak pernah putus komunikasi dan terus bermain dan berkumpul bersama. Banyak permainan juga yang telah kami lakukan bersama dari mulai boy-boyan hingga sekarang jamannya poin blank. Intinya tak terhitung momen-momen saat kita bersama sejak hampir dua dekade yang lalu.
Nya, tinggal teken kontrak. Imbuh kawan saya. Ia merupakan teman (tetangga dan adik kelas SD) saya yang baru sekitar satu bulan wisudaan .Ia baru saja lulus dari suatu sekolah politeknik di Bandung. Baru saja beberapa minggu ia lulus, lamaran kerjanya diterima di beberapa perusahaan bonafit. Tinggal terserah ia saja, akan kerja dimana. Namun ya, gajinya tetap sama-sama saja. Nya ngaranna ge fresh graduate, wajar gaji sakitu mah, nu penting pengalaman heula. Begitu bela kawan saya.
Namun, saat kawan saya yang lain riuh mengucapkan selamat kepadanya dan bertanya-tanya seputar kerja padanya, ada dua orang yang terdiam. Satu saya, satu lagi kawan saya. Ia juga berstatus mahasiswa dari fakultas canggih di universitas yang sama dengan saya.
Tanpa diperintah, kami berdua, dalam waktu yang bersamaan, saling memalingkan wajah, bertemu pandang, dan langsung mengumbar senyum satu sama lain. Entah senyum jenis apa itu. Yang jelas, sepertinya dia mengerti apa maksud senyum saya begitu juga sebaliknya.
