Sari Dewi

Sudah sejak lama sebenarnya saya ingin menegurnya. Sekedar menyapa lantas menyebutkan nama. Namun hendak apa, sepertinya situasi tak pernah di sisi kami. Entah mungkin saya juga tak punya nyali. Tapi bukan itu.

Sepertinya saya selalu ragu saat bertemu dia. Saya seperti pernah cukup lama mengenalinya. Tapi kenapa dalam situasi itu, sepertinya juga saya selalu merasa ragu akan keyakinan saya sebelumnya. Itu membuat saya selalu sangsi untuk membuka lagi memori lama.

Tapi saya tidak akan pernah lupa. Telah banyak rupa dan tak terhitung gadis dengan mata sipit yang pernah saya lihat sebelumnya. Tapi saya tidak pernah lupa terhadapnya. Saya hafal betul dengan sipit matanya. Bentuk lentik alisnya. Tembem pipi dan lurus rambut kuda poninya. Juga dengan tebal bedaknya.

Hingga beberapa waktu yang lalu. Kebetulan saya mengunjunginya. Saat jarak antara kami masih beberapa langkah jauhnya, saya masih ragu saja. Namun ketika saya tepat di depannya. Tepat ketika saya membuka tangki bensin motor. Saat saya mengutarakan “10.000 Mba”. Saya tak ragu lagi. Saya langsung menyapanya.

Tepat di depannya, saya melafalkan namanya. Tepat ketika saya membungkuk, saat kepala saya sejajar dengan dada dan melihat name tag nya. Sa-ri… De-wi. Saya mengeja namanya per suku kata dengan lambat.  Menyebutkan lengkap dengan singkatan nama belakangnya. Plus menyebutkan kelas dan sekolahnya.

Sepertinya suasana menjadi senyap baginya. Seketika rona wajahnya mengguratkan keterkejutan. Ia juga nampak kaget ketika ada yang menyebutkan namanya dengan lengkap berikut tempat sekolah SD nya. Ya, Sari Dewi. Sebut saja namanya. Ia kawan lamaku. Ia kawan ketika kami masih duduk di bangku SD. Saya tak sempat kenal dekat dengannya karena ketika menginjak kelas 3 atau 4 SD ia pindah sekolah. Namun walau ia begitu pendiam dan hanya mengenalnya selama tiga tahun, lembar memori saya masih cukup tebal untuk mengingatnya.

Ya, serupa seperti 15 tahun lalu. Rambutnya masih hitam lurus. Mata sipitnya. Dan terutama tembem pipi dan olesan bedak di wajahnya yang tak pernah saya lupa. Walau tentu postur dan perawakannya berubah. Tapi bagaimanapun saya masih tetap mengenalinya.

Kini ia bekerja di SPBU dekat rumah saya. Saat saya bertemu dan menyapa, tak ada balasan darinya. Mungkin ia masih sedikit terkejut. Lagi pula saya tak punya banyak waktu untuk berbincang dengannya. Maklum, antrian di pom saat itu cukup panjang di belakang saya.

Aaah, lain kali saya pasti akan menyapa dan menepuk pundaknya. Saya akan berbincang lebih panjang dengannya. Saya juga akan bertanya tentang kita, dan bagaimana kawan kami lainnya setelah 15 tahun lamanya.

Saya rindu, rindu kawan kami lainnya.

Saya rindu kamu

Sari Dewi.

Advertisement

~ by nana on October 29, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.