•March 23, 2014 • Leave a Comment

I got none to fight, I almost lose someone to be fighted.

I got none,nothing.

I am fragile

 

Advertisements

Leave It All Behind

•August 29, 2013 • Leave a Comment

Lets Stop The Work in Their Fields Now….!” EG

satu lagi

•May 3, 2013 • Leave a Comment

aku menangis lagi

seorang lagi pergi

selamat jalan…

Sabtu Murni di Bukit Berkilau

•September 9, 2012 • Leave a Comment

Bahkan sebelum kata mulai teruntai, layar tibatiba menjadi buram

Kata-kata terbelah menjadi dua, fokus menjadi berlipatganda

Di depanku serasa fatamorgana,

Jalan hitam panjang bersepuh air membuatku merona

Seperti ilusi namun nyata

Kini mataku sembab,aku malu mengakuinya namun mataku benar2 sakit

Kantung mataku membesar,aku tak menahannya

Aku tak akan mengusapnya

Aku akan membiarkannya

Aku merelakannya

Aku melepasnya, membebaskannya ke bumi

Aku masih mencerna kata-katanya

Aku tidak mau mengakuinya

Mencoba berdusta bahwa aku tidak pernah mengenalnya

Aku menyingkirkan namanya, tiga kata namanya

Akhirnya namanya terurai,perlahan termakan ular

Aku masih kalut, aku tak menyangka

***

Malam itu sesak

Jalanan pun tumpah ruah

Aku memacu kendaraan,membelah lautan kendaraan

Aku melihat mereka bahagia,aku melihatnya

Aku bahkan melamunkannya

Mereka hangat,mereka lekat

Aku masih mencoba memahami

Setiap mereka,membuatku perlahan mengendurkan pedal gas

Malam itu aku keraplambat menekan pedal rem

Setiap kali melihat mereka, setiap itu pula aku hampir terjatuh

***

Pukul 19 aku tergesa-gesa

Memacu motor,mencoba mendengar melodi yang terpatul dari tata suaranya

Aku menikmati coklat hangat dengan pancake saus maple

Aku merasa kecewa, tapi tidak apa

Aku hanya gelisah,aku sedikit tidak tenang

Entah mengapa

***

Pukul 19 ia kembali, serupa

Ia pun tergesa-gesa

Bukan pula kemauannya

***

Pukul 24.00, aku melihatnya pergi menjauh

Meninggalkan semuanya

Rambut ikalnya nampak kusam

Tetesan darah segarnya meninggalkan jejak disepanjang kepergiannya

Aku masih mencoba mencerna

Keluarganya masih mencoba menerimanya

Aku hanya

Aku tidak cukup bisa menggambarkannya

Setiap namanya dikumandangkan di pengeras suara mesjid

Ketika ia melintas, dibopong,tetangga dan keluarga

ketika ia telah menunaikan hidupnya

***

Selamat jalan kawan,

Selamat jalan sayang

Selamat jalan si pemalu

Coklat yang Jatuh

•December 20, 2011 • Leave a Comment

Saya sangat menyukai coklat.

Saya juga tak kecewa jika satu waktu coklat itu jatuh dan hilang dari kantung kemeja

Namun satu hal yang sulit saya terima,

kala melihat coklat itu perlahan terjatuh dan terpelanting di tanah

Sari Dewi

•October 29, 2010 • Leave a Comment

Sudah sejak lama sebenarnya saya ingin menegurnya. Sekedar menyapa lantas menyebutkan nama. Namun hendak apa, sepertinya situasi tak pernah di sisi kami. Entah mungkin saya juga tak punya nyali. Tapi bukan itu.

Sepertinya saya selalu ragu saat bertemu dia. Saya seperti pernah cukup lama mengenalinya. Tapi kenapa dalam situasi itu, sepertinya juga saya selalu merasa ragu akan keyakinan saya sebelumnya. Itu membuat saya selalu sangsi untuk membuka lagi memori lama.

Tapi saya tidak akan pernah lupa. Telah banyak rupa dan tak terhitung gadis dengan mata sipit yang pernah saya lihat sebelumnya. Tapi saya tidak pernah lupa terhadapnya. Saya hafal betul dengan sipit matanya. Bentuk lentik alisnya. Tembem pipi dan lurus rambut kuda poninya. Juga dengan tebal bedaknya.

Hingga beberapa waktu yang lalu. Kebetulan saya mengunjunginya. Saat jarak antara kami masih beberapa langkah jauhnya, saya masih ragu saja. Namun ketika saya tepat di depannya. Tepat ketika saya membuka tangki bensin motor. Saat saya mengutarakan “10.000 Mba”. Saya tak ragu lagi. Saya langsung menyapanya.

Tepat di depannya, saya melafalkan namanya. Tepat ketika saya membungkuk, saat kepala saya sejajar dengan dada dan melihat name tag nya. Sa-ri… De-wi. Saya mengeja namanya per suku kata dengan lambat.  Menyebutkan lengkap dengan singkatan nama belakangnya. Plus menyebutkan kelas dan sekolahnya.

Sepertinya suasana menjadi senyap baginya. Seketika rona wajahnya mengguratkan keterkejutan. Ia juga nampak kaget ketika ada yang menyebutkan namanya dengan lengkap berikut tempat sekolah SD nya. Ya, Sari Dewi. Sebut saja namanya. Ia kawan lamaku. Ia kawan ketika kami masih duduk di bangku SD. Saya tak sempat kenal dekat dengannya karena ketika menginjak kelas 3 atau 4 SD ia pindah sekolah. Namun walau ia begitu pendiam dan hanya mengenalnya selama tiga tahun, lembar memori saya masih cukup tebal untuk mengingatnya.

Ya, serupa seperti 15 tahun lalu. Rambutnya masih hitam lurus. Mata sipitnya. Dan terutama tembem pipi dan olesan bedak di wajahnya yang tak pernah saya lupa. Walau tentu postur dan perawakannya berubah. Tapi bagaimanapun saya masih tetap mengenalinya.

Kini ia bekerja di SPBU dekat rumah saya. Saat saya bertemu dan menyapa, tak ada balasan darinya. Mungkin ia masih sedikit terkejut. Lagi pula saya tak punya banyak waktu untuk berbincang dengannya. Maklum, antrian di pom saat itu cukup panjang di belakang saya.

Aaah, lain kali saya pasti akan menyapa dan menepuk pundaknya. Saya akan berbincang lebih panjang dengannya. Saya juga akan bertanya tentang kita, dan bagaimana kawan kami lainnya setelah 15 tahun lamanya.

Saya rindu, rindu kawan kami lainnya.

Saya rindu kamu

Sari Dewi.

Blue Screen

•October 14, 2010 • Leave a Comment

Ketika saya di depan layar komputer semuanya terkadang menjadi buram. Deretan abjad perlahan menjadi kabur, perlahan memudar, hingga menjadi deretan  abjad yang tak dapat dikenali lagi bentuk dan maknanya. Begitu juga dengan alunan musiknya. Kini ia tak lagi mengguratkan dinamika emosinya dan hanya menjadi bunyi-bunyian seperti hanya bunyi tonggeret di musim kemarau.

Setidaknya itulah gejala yang dapat timbul saat kita secara terpaksa harus berhadapan dengan komputer. Entah terpaksa mengerjakan tugas karena tenggat batas waktu, tumpukan pekerjaan, atau hendak mengerjakan tugas namun terserang kantuk luar biasa karena malamnya tidak tidur.

Jika demikian saya biasanya segera menutup Jendela-Jendela yang terbuka. Mundur beberapa langkah ke belakang menuju kasur, meluruskan badan, menarik napas dalam-dalam, menggeser posisi bantal, menarik selimut tinggi-tinggi, dan segera terjun bebas, masuk ke dalam jendela-jendela yang jauh lebih mengasyikkan.